Archive for April, 2007

si Entong dan bid’ah

Friday, April 27th, 2007

sudah lama juga nih gak ngeposting, nteu ada ide. kemarin abis nonton si Entong, baru kepikiran untuk masukin tema sitkom itu di blog. untuk yang belum tau serial Si Entong, ini sinetron komedi anak2 yang ditayangkan TPI sore hari, sekitar jam 6an lah. entong ini masih anak2, tinggal disuatu kampung sama ibunya yang janda. ada juga ustadz yang diperankan adi bing slamet.

naahh.. yang lucu dari episode kemarin itu, ngangkat topik bid’ah. si entong yang menyimak penjelasan ustad tentang bid’ah, yaitu hal2 baru yang dijaman Nabi tidak ada. orang yang mengikuti bidah atau sesuatu yang dibuat2 setelah jaman Nabi itu berarti pengikut Bid’ah dan jatuhnya sesat. karena pemahaman dangkal seorang anak kecil, si entong pulang dari pengajian langsung menyuruh ibunya memakai pakaian arab dengan cadar, menasihati bapak2 yang sedang menonton bola melalui TV dengan kata2: TV ini kan di jaman Nabi belum ada, jadi TV sesuatu yang baru, yang baru itu bidah, jadi kalau tidak mau masuk dalam golongan sesat, jangan nonton TV.

huahahahaha!!

terus begitu dengar adzan dari speaker mushola, dia bilang ke Muadzinnya (yang  adzan), dijaman Nabi speaker gak ada, jadi itu bi’dah juga. karna orang sekampung gak mau dibilang sesat, mereka menurut sama kata2 si Entong. listrik dipadamkan, ibu2 kepasar gak mau pake ojek, karena motor dijaman nabi belum ada.

huehehehehe…

barulah ketika para tukang ojek demo ke pak ustad karna pelanggannya hilang, pak Ustad baru sadar bahwa pemahaman si Entong tentang Bid’ah itu keliru. bid’ah yang dimaksud itu klo membuat2 sesuatu amalan atau ibadah baru. kalau segala sesuatu mesti seperti dijaman Nabi, kemana2 kita naik Unta dong sekarang?! hehehe,,,

akhirnya segala sesuatunya diluruskan dan kembali seperti semula.

serial ini membuat gw berpikir tentang pemahaman diri sendiri mengenai sagala sesuatu. bukan hanya masalah agama, tapi semuanya. terkadang gw terlalu sempit dalam menafsirkan segala sesuatu, sampai2 nyusahin diri sendiri. juga teringat sama orang2 yang salah tangkep mengenai essensi persoalan, hingga menggeneralisir suatu persoalan yang tidak relevan kedalam persoalan lain yang terkadang tidak signifikan. thats right brother!. LHUUUOOOO. kenapa jadi wapres gini..

pokoke intinya, memahami sesuatu jangan dari kulitnya aja, tapi essensinya. gitu lho. segala sesuatu pasti berkembang. persoalan yang kemarin belum ada, bisa jadi hari ini muncul dan mesti dipecahkan melalui pendekatan yang berbeda. jangan sampe karna fanatik berlebihan, kehidupan beragama kita jadi kaku dan stagnan.

ps; untuk tontonan yang ringan tapi berisi, si Entong pantas untuk ditonton ^_^

Tuhan 9 Centi

Friday, April 6th, 2007

mungkin banyak yang udah pernah baca, tapi baik juga saya masukin supaya mengingatkan bahaya merokok. saya dulu juga merokok, ya.. anggapan waktu itu rokok hukumnya ‘makruh!’. kyai2 dan Ustadz2 ribuan sampe jutaan umat juga ada yang merokok. karna itu rokok seakan hal biasa.. sampai.. saya membaca keterangan2 Ustadz Yusuf Al-Qardhawi di fatwa kontemporer. disana dijelaskan bahwa hukum merokok itu HARAM! beliau adalah ulama yang paling menonjol dalam ijtihad dan pemikirannya di dunia Islam saat ini. Alhamdulillah, selama tahun 2007 ini saya hanya merokok 2 batang. batang pertama.. sudah lupa, waktu itu setelah selesai latihan Jiu Jit Su di kampus. gak tahan, hehe.. batang kedua…

DIDALAM MIMPI! ini serius pembaca, saya sampe mimpi ngerokok! sangking lamanya enggak. hahahaha… tapi Insya Allah, saya bertekad gak merokok lagi. doakan saya.. =)

Oleh : Taufiq Ismail

                 Tuhan sembilan  sentimeter

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.